Pasar Seluler dan Perekonomian Global
Apakah terdapat hubungan antara penggunaan telepon seluler terhadap kemajuan perekonomian sebuah negara? Berdasarkan data dari human development report, kita dapat menganalisis bahwa terdapat hubungan antara penetrasi telekomunikasi dengan kemajuan sumber daya manusia.
Negara-negara maju cenderung memiliki penetrasi yang tinggi pada sambungan telepon (telephone mainlines), pelanggan telepon seluler (cellular subscribers) dan pengguna internet (internet user). Sebaliknya, negara berkembang cenderung memiliki penetrasi yang lebih rendah.
Sebagai contoh, berdasarkan data yang dikeluarkan United Nation Development Programme (UNDP), negara berkembang memiliki jumlah sambungan telepon 21 per 1.000 orang (atau 2,1 persen) pada tahun 1990 dan 132 per 1.000 orang (atau 13,2 persen) pada tahun 2005. Bandingkan dengan kategori negara maju (yang sering disebut sebagai Organization for Economic and Co-Operation Development) yang memiliki sambungan telepon 390 per 1.000 orang (atau 39 persen) pada tahun 1990 dan 441 per 1.000 orang (atau 44,1 persen) pada tahun 2005. Demikian pula negara maju yang memiliki pendapatan perkapita tinggi, dimana mereka memiliki sambungan telepon 462 per 1.000 orang (atau 46,2 persen).
Pada tahun 2005, negara berkembang memiliki penetrasi telepon seluler sebesar 229 per 1.000 orang (atau 22,9 persen). Bandingkan dengan negara maju (OECD) yang memiliki penetrasi telepon seluler sebesar 785 per 1.000 orang (atau 78,5 persen). Sedangkan negara OECD berpendapatan tinggi memiliki penetrasi telepon seluler sebesar 828 per 1.000 orang (atau 82,8 persen).
Pada tahun 2005, negara berkembang memiliki penetrasi internet sebesar 86 per 1.000 orang (atau 8,6 persen). Bandingkan dengan negara maju (OECD) dengan penetrasi internet sebesar 445 per 1.000 orang (atau 44,5 persen) dan negara maju berpendapatan tinggi dengan penetrasi internet sebesar 524 per 1.000 orang (atau 52,4 persen).
Apa yang membedakan antara negara maju dengan negara berkembang? Negara berkembang cenderung memiliki kesejahteraan lebih rendah dibandingkan dengan negara maju. Kesejahteraan dapat dilihat pada indicator gross domestic bruto per kapita (GDP per kapita). Negara maju cenderung memiliki GDP per kapita lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Berdasarkan data, negara berkembang memiliki GDP per kapita sebesar US $ 5,282 dan negara maju memiliki GDP per kapita sebesar US $ 9,527.
Negara dengan pendapatan tinggi (high income) cenderung memiliki penetrasi lebih tinggi pada sambungan telepon, pengguna telepon selular dan pengguna internet. Sebaliknya, negara dengan pendapatan rendah (low income) cenderung memiliki penetrasi lebih rendah pada sambungan telepon, pengguna telepon selular dan pengguna internet. Hal ini nampak dari perbandingan pada sambungan telepon per 1.000 orang pada tahun 2005, yaitu 500 (pendapatan tinggi), 211 (pendapatan menengah) dan 37 (pendapatan rendah). Sementara itu, perbandingan pengguna selular per 1.000 orang pada tahun 2005 adalah 831 (pendapatan tinggi), 379 (pendapatan menengah) dan 77 (pendapatan rendah). Perbandingan pengguna internet per 1.000 orang pada tahun 2005 adalah 525 (pendapatan tinggi), 115 (pendapatan menengah) dan 45 (pendapatan rendah).
Telekomunikasi Seluler dan Perekonomian Daerah
Berdasarkan analisis diatas, terdapat hubungan antara penetrasi telekomunikasi seluler dengan perekonomian. Semakin tinggi penetrasi telekomunikasi seluler, maka semakin besar peluang aktivitas ekonomi. Penetrasi telekomunikasi seluler yang tinggi akan mempermudah berbagai aktivitas manusia, mulai dari aktivitas pemerintahan, bisnis, organisasi, industri, universitas dan sebagainya.
Sebaliknya, semakin rendah penetrasi telekomunikasi seluler maka akan berpengaruh pada semakin rendahnya aktivitas perekonomian. Sebagai contoh, negara berkembang memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan dengan negara maju (ditunjukkan dengan nilai GDP per kapita yang kecil).
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah perbedaan penetrasi telekomunikasi seluler diberbagai daerah mempengaruhi kemajuan perekonomian ? Tentu saja kita dapat membenarkan pendapat tersebut. Telekomunikasi seluler termasuk infrastruktur yang menunjang aktivitas manusia, termasuk aktivitas ekonomi.
Lantas, apa yang menarik bagi Indonesia? Kita harus mampu mengadopsi kemajuan dari pengaruh telekomunikasi seluler terhadap kemajuan perekonomian. Semestinya kemajuan telekomunikasi tidak hanya dinikmati kalangan penduduk yang tinggal di pulau Jawa. Kemajuan telekomunikasi harus dinikmati seluruh penduduk di Indonesia. Semakin maju penggunaan telekomunikasi seluler diberbagai daerah, maka akan tercipta pusat-pusat perekonomian di daerah.
Mari kita membangun jaringan telekomunikasi seluler ke berbagai pelosok tanah air. Seringkali saya sendiri ketika berkunjung ke tanah kelahiran sulit mendapat sinyal dari operator. Padahal daerah itu masih termasuk di pulau Jawa. Belum lagi jika berpikir daerah di luar pulau Jawa. Saya membayangkan bahwa seluruh daerah di Indonesia dilengkapi dengan seluruh jaringan telekomunikasi yang mendukung aktivitas masyarakat. Namun kapan mimpi itu akan terwujud? Semoga segera terwujud!