Memasuki abad ke-21, terjadi perkembangan telekomunikasi yang sangat pesat di Indonesia. Pesatnya perkembangan tersebut terutama didukung oleh perkembangan telekomunikasi seluler di Indonesia. Perkembangan telekomunikasi di Indonesia adalah sebuah transformasi penggunaan teknologi telekomunikasi di kalangan masyarakat.
Perkembangan telekomunikasi seluler tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi komunikasi, perubahan regulasi dan budaya masyarakat. Tentu kita masih ingat ketika pertamakali handphone menjadi konsumsi masyarakat Indonesia pada era tahun 1990an. Saat itu handphone hanya menjadi konsumsi kalangan atas. Untuk memiliki sebuah nomer, terdapat banyak syarat yang harus dipenuhi, mulai dari surat keterangan penghasilan, kartu keluarga hingga kartu identitas. Mereka rela antri untuk mendapatkan sebuah nomer. Pada saat itu sebuah nomer handphone masih menjadi barang mewah.
Melewati tahun 2000, harga kartu perdana menurun. Namun kisaran harga yang ditawarkan masih mahal untuk kalangan menengah kebawah. Harga yang ditawarkan masih diatas Rp 500.000 untuk mendapatkan sebuah nomer perdana. Pada saat itu masih terdapat beberapa pemain industri telekomunikasi seluler.
Saat ini kita sudah dapat menikmati era bisnis telekomunikasi seluler dengan banyak pemain. Bahkan pemain baru tertarik untuk mencicipi gurihnya bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia. Siapa saja pemain industri ini? Sebut saja Indosat, Telkom, Telkomsel, Hutchinson, Bakrie Telekom, Smart Telekom, XL dan Axis.Mereka ikut bersaing dalam pasar GSM dan CDMA.
Internet dan Telepon Selular
Lantas, seberapa besar tingkat penggunaan telekomunikasi di Indonesia ? Bagaimana jika dibandingkan dengan negara tetangga?

Benua Asia sebagai benua dengan jumlah penduduk terbesar justru memiliki jumlah pengguna internet yang kalah banyak dengan di luar Asia. Jumlah penduduk Asia adalah sekitar 3,78 milyar jiwa (56,6 persen). Sisanya sebanyak 2,89 milyar jiwa (43,3 persen) tersebar di luar Asia, seperti Amerika, Eropa, Australia dan Afrika. Namun jumlah pengguna internet di Asia masih berkisar pada angka 578 juta jiwa atau 15,3 persen dari seluruh penduduk Asia. Bandingkan dengan luar Asia yang memiliki pengguna internet sebanyak 885 juta jiwa atau 30,5 persen dari seluruh penduduk diluar Asia. Pengguna internet di Asia hanya menyumbang sekitar 39,5 persen dari pengguna internet di dunia. Namun yang menjadi sebuah catatan positif adalah pertumbuhan pengguna internet yang pesat di Asia, yaitu 406 persen dari tahun 2000 hingga tahun 2008. Bandingkan dengan pertumbuhan di wilayah selain Asia sebesar 258 persen.
Dari seluruh negara Asia, China menduduki peringkat pertama dalam jumlah pengguna internet, yaitu sebesar 253 juta jiwa. Selanjutnya, Jepang memiliki jumlah pengguna internet sebesar 94 juta jiwa, India sebesar 60 juta jiwa, Korea Selatan sebesar 34,8 juta jiwa dan Indonesia sebesar 25 juta jiwa. Indonesia sejatinya adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Asia. Namun dalam indicator jumlah pengguna internet, Indonesia masih berada di peringkat kelima.
Umumnya, keterkaitan penduduk sebuah negara terhadap telekomunikasi tidak dapat dilepaskan dari penggunaan internet. Negara yang memiliki penetrasi besar dalam penggunaan internet biasanya memiliki kebiasaan menggunakan telepon seluler yang tinggi.
Bagaimana dengan pengguna telekomunikasi seluler di Indonesia ? Jumlah pengguna telekomunikasi seluler di Indonesia terus mengalami peningkatan pesat. Berdasarkan perkiraaan, saat ini terdapat sekitar 116 juta pengguna telepon seluler di Indonesia. Indonesia menempati peringkat ke-6 sebagai negara dengan jumlah pengguna telepon seluler terbanyak (www.detik.com).
China menempati peringkat pertama dalam jumlah pengguna telepon seluler dengan jumlah pengguna sebanyak 585 juta jiwa. India menempati peringkat kedua dengan jumlah sekitar 291 juta jiwa, diikuti oleh Amerika Serikat dengan jumlah sekitar 259 juta jiwa. Selanjutnya Rusia sebanyak 172 juta jiwa, Brazil sebanyak 134 juta jiwa dan Indonesia. Jepang dan Jerman masing-masing memiliki jumlah pengguna sebanyak 103 juta jiwa, Italia sekitar 90 juta jiwa dan Pakistan sekitar 86 juta jiwa.
Tidak ada data pasti yang mampu menunjukkan berapa sebenarnya jumlah pengguna telepon selular di Indonesia. Terdapat dua kategori pengguna telepon selular, yaitu CDMA dan GSM. Selain kategori tersebut, masih terdapat pengguna pra bayar (pre-paid) dan pasca bayar (post paid). Berdasarkan regulasi pemerintah, pengguna kartu pra bayar diwajibkan melakukan registrasi kartu. Namun tidak dilakukan pengecekan ulang (cross check) dari operator seluler terhadap pengguna, apakah data yang diberikan tersebut benar. Inilah yang menyebabkan data kartu pra bayar lebih sulit dideteksi daripada kartu pasca bayar.