Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 5 Agustus 2008, saya menjadi moderator dalam sebuah sesi diskusi. Acara diskusi sendiri diisi oleh Anies Baswedan (Rektor Univ Paramadina) dan Emza Moh Nur (Malaysian, anggota UMNO). Sesi diskusi ini merupakan bagian dari program Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) yang diadakan oleh Program Pembinaan SDM Strategis Nurul Fikri. Sebuah program beasiswa kepemimpinan untuk mahasiswa universitas pilihan.
Satu hal menarik yang dibicarakan dalam sesi diskusi itu adalah tentang kepemimpinan nasional. Dengan mencoba membagi periode perjalanan bangsa berdasarkan rentang waktu, maka perjalanan bangsa dapat dibagi menjadi periode pergerakan pra kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan dan perjuangan mengisi kemerdekaan.
Mari kita berpikir. Ketika jaman mulai perjuangan pergerakan menuju kemerdekaan. Perjuangan yang di ikuti oleh penggerak intelektual, seperti Syarikat Islam, Budi Utomo, dan berbagai organisasi lainnya. Penggagas pergerakan ini banyak didominasi oleh elit-elit yang menikmati pendidikan bermutu. Selanjutnya, para penggagas, pelopor dan penggerak jaman tersebut akhirnya menjadi penerus sebagai pemimpin Indonesia ketika masih bayi. Periode mereka memimpin adalah ketika tahun 1945-1960an.
Periode berikutnya adalah tahun 1960-an hingga 1980an. Sebagian besar pemimpin pada periode ini berasal dari mereka yang berjuang berperang dan berdiplomasi merebut kemerdekaan. Pemuda yang pada saat pergolakan kemerdekaan tidak memiliki andil dalam pergerakan mempertahankan kemerdekaan, jangan harap bisa menjadi pemimpin di negeri ini. Artinya, dominasi militer kuat dalam periode kepemimpinan Indonesia saat ini.
Periode berikutnya adalah tahun 1990an, dimana banyak pemimpin didomininasi oleh mereka yang ikut berjuang tahun 1960. Mereka adalah aktivis yang ikut menumbangkan kekuasaan orde lama.
Periode berikutnya adalah tahun saat ini, yaitu era reformasi, dimana banyak pemimpin yang didominasi oleh mereka yang mantan aktivis era 1980an dan 1990an.
Jadi, seandainya saya masuk akademi militer ketika lulus SMA, keadaan sudah sangat berubah. Bisa jadi saya baru masuk dalam posisi strategis 20 tahun kedepan, dimana peran militer pada 20 tahun kedepan akan berbeda jauh dengan peran militer era orde baru.
Bagaimana dengan prediksi selanjutnya? Kembali ke awal, seperti apa pemimpin itu? Pemimpin yang dimaksud disini adalah mereka yang berada dalam tataran perumus kebijakan publik. Kedepan, kemungkinan besar adalah para professional dan businessman.
Jaman sekarang, kalau berpikir memang tidak akan berhasil tanpa modal. Masuk ke politik, tentu saja butuh modal besar. Pada saat ini, seorang pengusaha tentu saja lebih mudah untuk mencalonkan diri dalam Pilkada dibandingkan mereka yang berlatar belakang militer.
Sekali lagi, ini bukan masalah pragmatis. Namun terlihat memang tren-nya seperti itu.
Saya jadi ingat ada sebuah pepatah dari Minang. Jika engkau pintar, jadilah pengusaha dan jika engkau setengah pintar, jadilah pegawai. Ada pepatah baru. Jika ingin jadi pemimpin di negeri ini, jadilah pengusaha.
Wassalam
Arip Muttaqien
Pemimpin seperti apa?
Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy
Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan
Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.
Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.
Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.
Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.
Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.
Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.
Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.
Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.
Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.
Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.
Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.
Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.
Ya, banyak sekali model kepemimpinan. Satu hal, yg penting adalah bagaimana memberikan pencerdasarkan kepada pemilih agar bisa memilih berdasarkan content, yaitu berdasarkan track record, bukan hanya sebatas ‘polesan’ melalui iklan-iklan politik