Tahukah Anda bahwa sepotong kulit dapat membuat banyak perbedaan? Sepotong kulit dapat menghindarkan seseorang dari infeksi mematikan. Bahkan, sepotong kulit itu menjadi batas antara hidup dan mati. Sunat yang awalnya hanya sebuah ritus, kini membuka peluang dalam mencegah infeksi HIV.
Perkenalan dengan HIV dan AIDS
HIV dan AIDS sudah tidak asing lagi bagi penduduk Indonesia. Namun, berapa persen dari jumlah tersebut yang benar-benar memahami dan menyadari betapa mematikannya kedua kata tersebut? Saya kira tidak mencapai setengahnya.
Sebenarnya apa itu HIV? HIV merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus. Nama tersebut diberikan karena virus tersebut menyerang manusia (human) dan menyebabkan terjadinya defisiensi imunitas tubuh (immunodeficiency). Defisiensi imunitas tubuh adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk melawan kuman penyakit sehingga ia mudah sekali menderita berbagai macam penyakit. HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, jarum suntik, darah dan produk darah, serta dari ibu ke anak.
Infeksi HIV berjalan dengan perlahan namun secara pasti menyebabkan kematian. Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) telah merenggut nyawa 25 juta orang di seluruh dunia (UNAIDS, Januari 2006). Terdapat beberapa tahapan dalam perjalanan penyakitnya hingga mencapai suatu tahap akhir yang disebut AIDS. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome merupakan sekumpulan gejala yang dapat ditemukan pada penderita HIV, di saat daya tahan tubuh penderita tersebut sudah amat menurun. Gejala AIDS tersebut antara lain diare lebih dari 1 bulan, penurunan berat badan drastis (lebih dari 10% dalam 1 bulan), demam lebih dari 1 bulan tanpa sebab yang jelas, sariawan di mulut yang sulit sembuh, dan masih banyak lagi.
Lebih baik mencegah?
Seseorang yang telah terinfeksi HIV tidak dapat sembuh seumur hidupnya. Sebagai konsekuensinya, ia harus meminum obat anti virus sepanjang hidup. Obat tersebut hanya “meredam” aktivitas virus sehingga kualitas hidup penderita HIV lebih baik, namun tidak menyembuhkan. Oleh karena itu, pepatah nenek moyang kita adalah senjata pamungkas melawan HIV, yaitu “lebih baik mencegah daripada mengobati”.
Usaha untuk mencegah infeksi HIV telah dilakukan melalui penyebaran slogan ABC, yaitu Abstinence, Be faithful, and use Condom. Akan tetapi, tahun demi tahun berjalan dan slogan hanya menjadi slogan tanpa berbuah keberhasilan. Peneliti “memutar otak” mencari jalan lain untuk mencegah infeksi HIV. Jalan itu terbuka pada awal tahun 1986 melalui seorang Aaron J.Fink. Dalam tulisannya, ia menyatakan bahwa sunat menurunkan risiko infeksi HIV. Sunat adalah tindakan pemotongan prepusium, yaitu bagian kulit terluar yang melingkupi ujung penis. Pengajuan sunat didasari oleh fakta bahwa lebih dari 50% penderita AIDS adalah pria dan 70% pria tersebut terinfeksi HIV melalui hubungan seks normal laki-laki dan perempuan. Jalan masuk HIV ke dalam penis menjadi area yang ditelusuri sejak saat itu.
Benarkah cegah infeksi?
Bagaimana sunat dapat melindungi seseorang dari HIV? Tentu pertanyaan besar tersebut melintas pada pikiran banyak orang. Pertanyaan mulai terjawab ketika ditemukan sel Langerhans, yaitu sel yang terdapat pada prepusium. Sel Langerhans dan HIV seperti anak kunci dan gembok, ketika bertemu mereka akan membuka “pintu masuk” bagi infeksi HIV ke dalam tubuh manusia.
Jadi, bagaimana peranan sunat dalam hal tersebut? Pertama, ketika disunat prepusium pada penis akan disingkirkan sehingga tidak ada lagi sel Langerhans sebagai kunci pembuka “pintu masuk” HIV. Kedua, ditemukan bahwa daerah di bawah prepusium merupakan daerah yang lembab. Daerah lembab merupakan tempat favorit berbagai macam kuman penyakit untuk berkembang. Dengan disunat, daerah tersebut dihilangkan sehingga menurunkan risiko terinfeksi kuman penyakit, termasuk HIV. Ketiga, setelah sunat akan terjadi penebalan kulit di daerah penis sehingga HIV akan lebih sulit untuk “menembus” dan menginfeksi. Terakhir, penis pria menjadi lebih cepat kering pasca sanggama akibat sunat sehingga tidak strategis bagi perkembangan kuman.
Mengapa ditolak?
Sayangnya, WHO dan UNAIDS belum menyetujui sunat sebagai metode pencegah infeksi HIV (Konferensi Internasional AIDS, Oktober 2006). Alasan utamanya adalah belum adanya cukup bukti yang kuat. Perubahan perilaku pria disunat menjadi alasan lain untuk menolak sunat. Ditengarai, pria yang disunat merasa kebal terhadap infeksi HIV. Mereka tidak ingat bahwa sunat bukan pelindung 100%. Seks bebas menjadi gaya hidup bahkan penggunaan kondom ditinggalkan. Akibatnya, sunat menjadi senjata makan tuan.
Pertimbangan lain adalah sunat bukan tindakan tanpa risiko. Di negara berkembang, praktik sunat acap dilakukan dengan alat tidak steril dan tindakan operasi tidak memadai. Infeksi yang terjadi pasca sunat lantas menjadi momok pelaksanaaan sunat. Bukan tak mungkin, infeksi tersebut menjadi pembuka jalan bagi HIV. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pria harus pantang bersanggama selama beberapa hari pasca sunat. Luka pasca sunat merupakan jalan masuk potensial bagi HIV. Bila sanggama tetap dilakukan, kemungkinan terjadi infeksi cukup besar. Masih banyaknya perdebatan seputar sunat menjadikan sunat belum dilegalkan sebagai metode pencegah infeksi HIV.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Jakarta, pecandu narkoba memainkan peran sentral dalam penyebaran HIV melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian. Lebih dari separuh pengguna jarum suntik itu merupakan individu aktif secara seksual dan menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK). Data terakhir menyatakan 17% PSK di Jakarta telah positif terinfeksi HIV dan hanya 25% menggunakan kondom saat menjual jasa. Pengguna narkoba dan PSK pun telah secara sinergis menciptakan lingkaran setan penyebaran HIV melalui hubungan seksual. Lain dengan Papua, budaya bersanggama dengan lebih dari satu pasangan menjadi titik tolak penyebaran HIV. Melihat kondisi di atas, dapat dikatakan bahwa hubungan seks normal laki-laki dan perempuan adalah kunci penyebaran HIV di Indonesia.
Sejalan dengan hal di atas, sunat seharusnya dapat menjadi solusi pencegah infeksi HIV di Indonesia yang “kaya” penularan HIV melalui hubungan seksual. Pertanyaan besarnya adalah mengapa frekuensi infeksi HIV tidak berkurang, bahkan meningkat? Sunat dilakukan oleh mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam. Namun ternyata hal itu tidak mencegah peningkatan infeksi HIV.
Beberapa alasan dimungkinkan sebagai penyebab tetap meningkatnya infeksi HIV. Kurun waktu terakhir, penyebaran HIV di Jakarta melalui jarum suntik lebih banyak ketimbang hubungan seksual. Selanjutnya, apabila dicermati mayoritas kasus HIV berasal dari Papua dan Bali. Di kedua tempat tersebut, sunat bukan ritus keagamaan ataupun budaya. Dari segi umur, penelitian menunjukkan sunat efektif mencegah infeksi apabila dilakukan pada usia 20-21 tahun sedangkan sunat di Indonesia dilakukan pada usia sebelum pubertas. Kemudian, praktik sunat di Indonesia banyak dilakukan dengan pelayanan di bawah standar, seperti sunat massal. Dapat terjadi, sunat yang dilakukan bukan mencegah melainkan meningkatkan risiko infeksi.
Melihat kenyataan di atas, pilihan sekarang jatuh kepada pemerintah Indonesia. Apakah akan membudayakan sunat pada masyarakatnya dalam rangka memerangi HIV? Keputusan akhir tentu harus berdasarkan rasionalisasi bahwa sunat secara tunggal bukan solusi dalam mencegah infeksi HIV. Status “telah disunat” bukan tameng yang melegalkan seks bebas. Prinsip ABC adalah prinsip utama perubahan gaya hidup yang mutlak dihayati dan dilakoni. Apabila keputusan pro-sunat yang akan diambil, maka hal itu hanya komplementer. Jadi, sepotong kulit itu adalah sebuah solusi atau hanya ilusi?
Baguslah, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan metode ini. Tinggal pelaksanaannya dan memperbaiki dari metode medis-nya.
Waa, Yov, kirim ke koran dong tulisannya!
Boleh boleh boleh…
weitss..yov..mantab euy..emang sunat udah dijalanin umat islam sejak dulu..kesimpulannya emang sunat menjadi salah satu alat mencegah infeksi HIV/AIDS..namun solusi ABC pun masih tetap salah satu cara pencegahan. Jadi, selebihnya ada di hati nurani serta pikiran para pencandu, PSK, dan penganut seks bebas tadi..
keep typing ya yov..anyway..we miss u a lot..hohoho=)
Hmmm, itu dari pihak pria, bagaimana dengan nasib para wanita?
Apa yang disunat? :p
Ngga lah, becanda… ^^
Bagaimana kalau yoveline, melakukan penelitian di lapangan?
Entah itu studi kasus atau survey ke masyarakat awam.
Tapi yang lebih penting adalah bagaimana MEMUSNAHKAN HIV?
Bukan mencegah penularannya! Itu ga guna selama HIV masih berkeliaran.
Bagaimana HIV bisa ada di bumi ini?
Apa penyebab hadirnya HIV?
Apakah karena seks bebas? Sepertinya bukan, karena seks bebas hanya menularkan virus, bukan MENCIPTAKAN HIV?
Ada mitos yang mengatakan bahwa komunitas gay-lah penyebab ada virus tersebut.
OK, gampangnya gini deh, contoh kasus:
Misalnya ada 5 pasang cowo-cewe (total 10 orang).
Mereka di karantina di suatu tempat dan dijamin hidup jiwa dan raganya secara sehat dan sejahtera.
Tapi syaratnya, mereka harus melakukan SEKS BEBAS selama sebulan.
Cowo saling bertukar pasangan di antara kelima cewe tsb.
Tapi tentunya kebersihan dan kesehatan mereka di cek tiap kali habis sanggama.
Jadi dipastikan sebelum sanggam mereka bersih dan higienis :p
Pertanyaan:
Apakah, setelah 1 bulan melakukan seks bebas mereka mendapatkan HIV dan mengidap AIDS?
Jika benar, mk memang benar penyebabb AIDS adalah seks bebas.
Jika tidak, apa dong?
~SejakSDselaluPenasaranDgnPenyebabHIV
Kabar Gembira : dalam waktu dekat ini akan di buka FLG Foreskin Lover Group)= Group Pecinta Kulup yg terdiri dari Ce wek+Cowok yg tidak Sunat maupun Sunat tapi mencintai Ku lup baik Kulupnya & Kulup orang lain.,salah 1 pendirinya juga Kakak Laki Saya.Ini bukan Group Sex tapi group Edukasi,Eko nomi & Sosial termasuk pengembangan diri kita,info detail ren cana acara,kegiatan,prosedur & pendaftaran silakan hubungi alamat Email Saya : vierachika@telkom.net.Marilah kalian sbg Pecinta Kulup masuk ke sini karena kalian akan dapatkan banyak keuntungan di sini khususnya kepuasan batin.
Bagi kalian yg tidak Sunat di mohon agar tetap pertahankan Kulupnya & tidak terpengaruh hasutan + rayuan utk Sunat apalagi tawaran kami lebih menarik.