Kira-kira setahun yang lalu, saya ingat bahwa pernah mempresentasikan makalah dengan tema uang panas atau hot money. Tepatnya adalah bulan Juni 2007. Hot money adalah istilah untuk pergerakan uang pada instrument investasi jangka pendek. Berbeda dengan investasi sektor riil, investasi hot money bersifat short term. Contoh investasi short term adalah dalam bentuk saham, obligasi, sertifikat bank indonesia dan surat utang negara. Sedangkan contoh investasi riil adalah membangun jalan raya, membangun pabrik, investasi.
Makalah yang disajikan memberikan pendekatan perbandingan antara kondisi tahun 1997 dengan tahun 2007. Judul makalah yg dipresentasikan adalah ”Gejala Krisis Ekonomi Jilid Kedua : Potensi dan Ancaman (Belajar dari Sepuluh Tahun Krisis Ekonomi)”. Pada umumnya, saya menyajikan makalah dengan data terbaru. Sehubungan dengan tema yang dibahas adalah tentang hot money, maka banyak data ekonomi yang muncul. Tidak ketinggalan pula grafik dengan pembahasan panjang.
Banyak penonton yang saat itu hadir mengira saya adalah mahasiswa fakultas ekonomi. Ternyata salah besar. Saya adalah mahasiswa fakultas teknik. Hahaha…..
Kembali lagi yuk ke soal makalah yg tadi. Selama setengah jam saya memaparkan tentang perbandingan antara kondisi 1997 dengan kondisi 2007. Pertamakali saya paparkan bagaimana kronologis krisis ekonomi tahun 1997, dimulai dari Thailand lalu merembet ke Malaysia, Singapura, Filipina, Indonesia dan Korea Selatan. Krisis ekonomi saat itu dimulai dari larinya modal asing, banyaknya investasi jangka pendek dan sektor finansial yang berkembang cepat.
Sumber pustaka yang digunakan lebih ke arah bagaimana siklus ekonomi terjadi, yaitu ada kemungkinan terjadi booming dan depresi bahkan kontraksi perekonomian. Perbandingan kondisi dapat dilihat dari produk domestik bruto, pertumbuhan ekonomi, nilai perdagangan dan cadangan devisa.
Sebenarnya kronologi mudah, aliran modal keluar menyebabkan neraca pembayaran defisit lalu terjadi depresiasi nilai tukar. Selanjutnya, nilai inflasi naik dan pendapatan turun. Kedua hal ini menyebabkan permintaan agregat turun, lalu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang terhambat tentu menyebabkan kemiskinan dan pengangguran naik.
Berdasarkan data yang dianalisis, saya dapat menyimpulkan bahwa Indonesia termasuk negara yang lambat bangkit dari krisis ekonomi. Bandingkan dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Korea Selatan. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia memang unik. Tak hanya merembet pada bidang ekonomi, namun juga terjadi bidang dimensi lain. Lazimnya disebut krisis multidimensional, meliputi politik, hukum, budaya dan lain-lain.
Saya menganalisis beberapa gejala menuju krisis jilid ke-2. Begitulah saat itu saya menyebutnya. Gejala yang muncul dan mengarah kepada krisis ekonomi adalah besarnya aliran modal jangka pendek yang masuk ke Indonesia, kelebihan likuiditas, motif spekulasi dan meningkatnya sektor finansial.
Perbandingannya adalah pada tahun 2007 kondisi lebih stabil. Kondisi politik tidak separah tahun 1997. Selain itu, fundamental ekonomi Indonesia masih lebih bagus dibandingkan tahun 1997 dan kelembagaan ekonomi yang lebih bagus.
Benarkan demikian?
Saya memaparkan data perbandingan Indonesia dengan negara tetangga, termasuk ASEAN dan Asia. Data yang dibandingkan antara lain pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto per kapita, keseimbangan neraca perdagangan, keseimbangan neraca berjalan, nilai tukar, cadangan devisa, tingkat kondisi bisnis, kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan nilai tambah pada industri, nilai tambah jasa, inflasi, tingkat pengangguran, hutang luar negeri dan investasi luar negeri.
Saran yang diberikan adalah : memperkuat pasar finansial, membuat skema pertahanan bersama, meningkatkan produktifitas ekspor, membangun infrastruktur dengan pesat, memperbaiki iklim investasi, menjaga stabilitas kredit, meningkatkan penyaluran kredit dan meningkatkan daya saing industri.
Dibandingkan dengan makalah peserta lain, milik saya memang rumit.
Alhasil, banyak yang tidak mengerti. Juri sebagai pengasa juag nampaknya tak terlalu tertarik. Terlihat dari wajahnya.
Begitu selesai, beberapa pertanyaan yang muncul “Makalah Anda ini kan cuma sekedar mengutip data dari berbagai sumber? Sama dg pakar-pakar ekonomi lain dan akhirnya tidak ada yang baru”
Dasar! Heran, bisa-bisanya ngomong seperti itu. Memang begitulah kalau mengambil data ekonomi. Data pasti diambil donk, bukan dibuat atau dikarang. Hahaha….
Ada lagi pertanyaan yang cerdas, “Bagaimana prediksi Anda, apakah akan terjadi krisis?” Ini pertanyaan lebih menghargai daripada pertanyaan yang tadi.
Saya menjawab secara singkat, “Jika membandingkan fundamental perekonomian antara saat ini dengan satu dasawarsa lalu, maka kondisi saat ini memang lebih baik. Namun tak menutup kemungkinan terjadi krisis ekonomi jika kita tak bertindak serius menangai pasar finansial yang cenderung kurang diatur dan bagaimana kita memeprbaiki iklim investasi”
Kenyataan yang terjadi? Sudah mulai bisa terlihat. Pemerintah mulai panik. Namun semoga kepanikan tidak meluas menjadi kalap seperti pemerintah AS dan beberapa negara Eropa.
Satu hal menarik dari krisis. Krisis selalu menghasilkan hambatan dan peluang. Tergantung daripada kita melihat.
Jika ingin mengunduh file presentasi, silakan klik di sini
Jika ingin mengunduh makalah bagian awal, silakan klik di sini
Jika ingin mengunduh makalah bagian isi, silakan klik di sini